Mahasiswa UNIHAZ Bergerak Nyata: Diskusi Publik Lingkungan Hidup Jadi Momentum Strategis Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim

Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH (UNIHAZ) kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap isu-isu strategis global melalui penyelenggaraan kegiatan Diskusi Publik bertema “Peran Anak Muda Mendorong Mitigasi Bencana Ekologis dan Perubahan Iklim”. Kegiatan ini diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNIHAZ pada Kamis, 30 April 2026, dan dilaksanakan di Gedung Serbaguna (GSG) UNIHAZ, sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif serta memperkuat peran generasi muda dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Rektor UNIHAZ, Dr. Arifah Hidayati, SE., MM, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan sosial yang berbasis pada nilai keberlanjutan. Menurutnya, perubahan iklim dan bencana ekologis telah berkembang menjadi isu multidimensional yang tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga pada stabilitas sosial, ekonomi, dan kebijakan publik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan integratif yang melibatkan akademisi, pemerintah, masyarakat, dan khususnya generasi muda sebagai aktor utama perubahan.

Dalam konteks tersebut, Presiden Mahasiswa UNIHAZ, Pajar Pratama Putra, menegaskan bahwa mahasiswa harus mampu keluar dari posisi pasif dan mengambil peran strategis sebagai agen perubahan. Ia menekankan bahwa kesadaran lingkungan tidak cukup berhenti pada pemahaman konseptual, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk aksi nyata, advokasi kebijakan, serta kontribusi langsung kepada masyarakat. Kegiatan diskusi publik ini, menurutnya, merupakan langkah awal dalam membangun gerakan intelektual mahasiswa yang terstruktur dan berkelanjutan.

Diskusi publik ini menghadirkan narasumber yang representatif dari berbagai sektor strategis, sehingga mampu memberikan perspektif yang komprehensif terhadap isu lingkungan. Dari unsur legislatif, hadir Teuku Zulkarnain, SE, selaku Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, yang menyoroti pentingnya penguatan regulasi serta peran pemerintah daerah dalam mengawal kebijakan lingkungan yang berkelanjutan. Dari sisi aktivisme lingkungan, Uli Arta Siagian sebagai Koordinator WALHI memberikan analisis kritis terkait dampak deforestasi, degradasi lingkungan, serta akar penyebab terjadinya bencana ekologis di Bengkulu yang semakin kompleks dan sistemik.

Selanjutnya, dari aspek kebencanaan, M. Syukur, SE yang mewakili BPBD Provinsi Bengkulu memaparkan strategi mitigasi dan adaptasi bencana berbasis kesiapsiagaan daerah, termasuk pentingnya integrasi data, perencanaan risiko, dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Dari perspektif akademik, Rendra Edward F., S.H., M.H sebagai akademisi UNIHAZ menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dan hukum dalam pengelolaan lingkungan hidup, serta urgensi peran perguruan tinggi dalam menghasilkan kebijakan berbasis riset yang aplikatif. Sementara itu, Nosi Winda Putri, yang dikenal sebagai Perempuan Sungai Lemau, menghadirkan perspektif empiris dari masyarakat terdampak, dengan menyampaikan pengalaman langsung menghadapi dampak bencana ekologis di wilayahnya.

Diskusi ini dipandu oleh Doni Wijaya sebagai moderator, yang mampu mengarahkan jalannya forum secara dinamis dan kritis, sehingga interaksi antara narasumber dan peserta berlangsung secara produktif. Kehadiran berbagai narasumber dari latar belakang yang berbeda tersebut menjadikan forum ini tidak hanya sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai wadah integrasi pengetahuan, pengalaman, dan kebijakan dalam satu kerangka dialog yang konstruktif.

Isu-isu yang dibahas dalam forum ini mencerminkan kompleksitas permasalahan lingkungan di Provinsi Bengkulu, mulai dari deforestasi, alih fungsi lahan, meningkatnya frekuensi bencana ekologis, hingga lemahnya penegakan hukum lingkungan. Diskusi ini juga menyoroti pentingnya kesadaran kolektif serta peran aktif masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Dalam hal ini, mahasiswa diposisikan sebagai aktor kunci yang mampu menjembatani antara ilmu pengetahuan dan praktik di lapangan.

Salah satu kekuatan utama kegiatan ini terletak pada integrasi antara perspektif akademik dan pengalaman lapangan. Kehadiran masyarakat terdampak sebagai narasumber memberikan dimensi nyata terhadap isu yang dibahas, sehingga diskusi tidak terjebak dalam pendekatan normatif semata, tetapi mampu menggambarkan kondisi riil yang terjadi di masyarakat. Hal ini menjadi penting dalam memastikan bahwa setiap solusi yang dihasilkan memiliki relevansi dan dapat diimplementasikan secara efektif.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan diskusi, panitia juga melaksanakan aksi nyata berupa penanaman pohon sebagai simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kegiatan ini menegaskan bahwa perubahan tidak cukup dibangun melalui diskursus intelektual, tetapi harus diiringi dengan tindakan konkret yang memberikan dampak langsung bagi lingkungan. Penanaman pohon tersebut menjadi representasi dari kesadaran kolektif seluruh peserta untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian ekosistem secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, UNIHAZ semakin memperkuat perannya sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki orientasi kuat terhadap isu keberlanjutan dan pembangunan berwawasan lingkungan. Sinergi antara mahasiswa, dosen, pemerintah, dan masyarakat menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun kolaborasi lintas sektor untuk menjawab tantangan global.

Pada akhirnya, diskusi publik ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran dan gerakan kolektif generasi muda. Pesan yang dihasilkan sangat jelas bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang terukur dan berkelanjutan. Mahasiswa sebagai generasi penerus memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan memastikan keberlanjutan kehidupan di masa depan.

UNIHAZ, melalui kegiatan ini, telah menunjukkan langkah konkret dalam membangun budaya akademik yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada kontribusi nyata terhadap masyarakat dan lingkungan. Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi gerakan ini agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan strategis yang berdampak luas.

Scroll to Top